Membantu Isu Emosional Anak Ketika Didiagnosa Scoliosis

Ketika  seorang anak didiagnosa scoliosis, hal tersebut bukan hanya mempengaruhi kondisi fisiknya, tapi juga mempengaruhi kondisi mentalnya dan bagaimana ia memandang dirinya sendiri. Biasanya, scoliosis didiagnosa ketika seseorang berusia remaja, di saat pubertas. Pubertas adalah fase ketika terjadi perubahan yang cukup besar pada tubuh sehingga remaja menjadi lebih sadar terhadap bentuk tubuhnya. Mereka ingin mempunyai kontrol terhadap tubuhnya sendiri dan tidak ingin diatur. Sementara treatment dan pemakaian brace masih membutuhkan kontrol dari orang tuanya agar bisa maksimal, sehingga yang terdampak bukan hanya anak, tapi orang tua dan seluruh keluarga.

Berikut ini adalah beberapa issue yang dialami oleh keluarga dengan anggota yang mengalami scoliosis:

  • Penderita scoliosis khawatir pada brace yang akan dipakainya akan membuatnya terlihat aneh, tidak nyaman, dan akan membuat teman-teman mengejeknya.
  • Sementara pada orang tua, mereka mengkhawatirkan kesehatan dan masa depan anaknya.
  • Orang tua dan anak merasakan stres dengan tingkat stres sehingga keduanya harus selalu dievaluasi kesehatan mentalnya agar pemakaian brace maksimal.

Sementara itu isu emosional yang muncul pada anak ketika didiagnosa scoliosis adalah:

  • Merasa berbeda dari anak lain
  • Berusaha memakai baju yang menyembunyikan scoliosis
  • Keputusan memakai brace berdasarkan aktivitas sosial
  • Takut diledek oleh teman sekolah
  • Orang tua terus memaksa memakai brace

Hal-hal inilah yang membuat seorang penderia scoliosis merasakan emosi yang naik turun, seperti marah, frustasi, kecewa, putus asa, dan tidak berdaya. Mungkin orang tua awalnya fokus pada kesehatan dan treatment saja, tapi isu psikologis seperti ini harus menjadi perhatian utama sehingga pengobatan dapat lebih efektif.

Hal-hal yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu anaknya yang mengalami masalah emosional ketika menjalani pemakaian brace:

  • Inisiatif untuk selalu menggali apa yang dirasakan oleh anak. Anak mungkin menjadi lebih tertutup atau tidak terbuka terhadap emosi-nya, jadi orang tua harus lebih proaktif dalam mendekati dan menanyakan apa yang dirasakan anak tanpa menghakimi.
  • Cari informasi yang kredibel mengenai pengobatan scoliosis dan dampaknya pada anak.
  • Bertanya kepada para profesional dan melakukan second opinion sehingga informasi yang didapat tepat.
  • Mempunyai sikap dan pandangan yang positif terhadap apa yang dijalani. Walau tidak mudah dan akan ada hari-harinya mengalami rasa sedih, marah, kecewa; tapi yakini bahwa treatment yang dijalani akan membawa perubahan yang baik.
  • Miliki dukungan dari orang-orang sekitar yang positif. Bisa juga bergabung dengan komunitas scoliosis atau care-giver sehingga tidak merasa sendirian dalam menjalani hal ini.
  • Pertimbangkan berbagai pilihan treatment dan resikonya sehingga apapun yang dipilih sudah merupakan yang terbaik.

Meskipun menerima diagnosa scoliosis tidak mudah dan membutuhkan komitmen panjang untuk memperbaikinya, tapi dengan penanganan yang tepat dan support system yang baik, hal ini akan lebih mudah dijalani. Jangan takut untuk minta pertolongan, ya.

Naomi Ernawati Lestari, M.Psi – Psikolog Scoliosis Care

Klinik Scoliosis Care

SCOLIOSIS CARE

One Wolter Place,
2nd Floor,
Jl. Wolter Mongisidi
no. 63B
Kebayoran Baru, Jakarta 12180

Senin Libur

Selasa - Jumat 08.00 - 21.00

Phone/Whatsapp +62 21 72801062
+62 811 9998565

Sabtu - Minggu 08.00 - 17.00

Hari Raya / Libur By appointment

SENOPATI THERAPY CENTER

PX Pavillion,
2nd Floor – 2B,
Jl. Puri Indah Raya, Blok U1
Puri Indah, CBD
Jakarta Barat – 11610

Senin Libur

Selasa - Jumat 09.00 - 20.00

Phone/Whatsapp +62 21 5835 8609
+62 81210023838

Sabtu - Minggu 09.00 - 20.00

Hari Raya / Libur By appointment